Hot cookies are waiting for you !!

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur.

Minggu, 16 Desember 2012

METODE PENGEMBANGAN EMOSIONAL ANAK”




METODE PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL AUD
“ METODE PENGEMBANGAN EMOSIONAL ANAK”

1.   Permainan Feeling Band
Menurut Newcomb (1944) permainan feeling band atau band perasaan adalah permainan membunyikan instrument music sesuai dengan ekspresi perasaan. Alat musik yang digunakan sebaiknya jenis perkusi sehingga anak anak dapat lebih mudah menggunakannya. Dalam permainan in, guru berperan sebagai konduktor. Ia dapat meminta anak untuk membunyikan alat musiknya dengan ekspresi “marah, sedih, gembira dan lain sebagainya.
Anak – anak dapat mencoba memahami perasaan itu terlebih dahulu sebelum ia mengekspresikannya melalui alat musik yang dipegangnya. Dalam pelaksanaannya sangat mungkin ada anak yang mengalami kesulitan, namun karena kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok, ia akan belajar pada anak yang lain.
Permainan ini sangat membantu anak untuk melakukan proses katarsis, menyadari perasaannya sendiri dan bersenang – senang.





2.   Demonstrasi
Kegiatan memberi contoh atau memperlihatka secara langsung dalam melakukan suatu perbuatan atau perilaku. Dalam demonstrasi terkandung unsur showing, doing and telling, yaitu perlihatkan, lakukan, dan katakan sebagaimana yang dipaparkan Moeslichatoen (1999).
Berkenaan dengan pengembangan emosi, pembelajaran emosi dilakukan dengan cara mendemonstrasikan atau mengekspresikan perasaan. Demonstrasi dapat dilakukan melalui kegiatan bercakap – cakap terlebih dahulu. Kemudian anak diminta mendemonstrasikan emosi yang diminta. Selain itu, bermain pantonim juga dapat dilakukan sebagai permainan untuk mendemonstrasikan ekspresi anak.
Contoh kegiatan yang lain, guru dapat pula meminta anak untuk mendemonstrasikan sebagai ekspresi emosi secara langsung, misalnya seorang guru mengajar anak – anak untuk tertawa bersama – sama, kemudian menangis, marah, tersenyum dan lain sebagainya.
Tujuan penerapan metode ini adalah untuk katarsis atau mengeluarkan emosi yang ditekan, Self Awarness atau kesadaran terhadap diri sendiri serta pengenalan terhadap berbagai bentuk emosi. Dalam metode ini guru juga dapat menjelaskan harapan lingkungan dalam proses pengekspresian emosi, misalnya guru bertanya, bolehkan mereka melempar mainan, piring dan gelas pada saat mereka marah. Guru kemudian menjelaskan alasannya dan apa sebaiknya dapat mereka lakukan.


3.   Permainan Personafikasi
Permainan yang dilakukan dengan cara meniru gerakan binatang atau tumbuhan seolah – olah mereka hidup dengan cara hidup manusia. Dalam permainan ini anak dapat berpura – pura menjadi selembar daun yang terbang tertiup angina tau pohon yang tumbang.
Permainan ini membutuhkan perasaan yang halus dari anak selain itu empati dan perhatian anak terhadap pola hidup makhluk lain juga dilatih melalui permainan ini, kepercayaan diri, kebebasan berkespresi, kreativitas dan imajinasi anak ikut terkembangkan.

4.   Latihan Antri
Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan sehari–hari. Antrian timbul disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan (kapasitas) pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pengguna fasilitas yang tiba tidak bisa segera mendapat layanan disebabkan kesibukan layanan.
Dalam pengembangan emosional anak usia dini latihan antri sangat diperlukan karna disini anak disini melatih kesabaran dalam melakukan kegiatan contohnya baris – berbaris atau latihan antri dalam mengambil air wudhu untuk kegiatan Ibadah Shalat, dengan adanya latihan antri dalam kegiatan belajar maka emosi anak dapat terkendalikan. Latihan antri juga sangat bermanfaat dan positif karna anak mampu menahan emosi dalam melakukan kegiatan.


5.   Latihan Menunda Keinganan
Ada sebuah studi yang dilaksanakan oleh pakar psikologi, Walter Mischel, pada tahun 1960-an di taman kanak-kanak kampus Stanford University California. Sebuah studi mengenai "Tantangan Marshmallow" (sejenis makanan) yang disodorkan pada anak-anak yang berusia empat tahun memperlihatkan dengan jelas betapa pentingnya kemampuan menahan emosi atau kemampuan menahan dan menunda dorongan emosi. Melatih "menahan dan menunda" setiap keinginan anak merupakan cara yang tepat untuk mengasah kemampuan dorongan emosi yang terus bekembang pada diri anak. Dorongan emosi ini sangat penting sekali untuk kehidupan anak, terutama disaat anak akan meningkatkan kualitas hidupnya. Bagaimana anak memutuskan setiap pilihan-pilihan dan sikap hidupnya, akan ditentukan dari pola dorongan emosinya.
Orangtua harus menjadi "pelatih" dalam proses pengasahan dorongan emosi ini. Contoh-contoh yang diberikan orangtua dalam mengelola setiap dorongan emosinya akan mempermudah proses pelatihan ini. Seperti, melakukan puasa dalam bulan Ramadhan satu bulan penuh adalah sarana yang paling tepat untuk melatih dorongan emosi ini.
Selain dengan cara memberi contoh, orangtua harus memberi "pemaknaan positif" dari setiap dorongan emosi yang muncul. Pemaknaan positif terhadap penundaan keinginan anak akan memberi arti "yang baik" bagi anak. Seperti contoh studi penelitian diatas, barang siapa yang mampu menunda mengambil marshmallow selama 20 menit akan mendapatkan 2 marshmallow dan yang tidak mampu hanya mendapatkan 1 marshmallow.

Demikian juga melatih "menahan dan menunda" keinginan anak kita dengan cara berpuasa di bulan Ramadhan. Tanamkanlah memori yang baik akan manfaat puasa di bulan Ramdhan, jangan terburu-buru menghubungkan puasa dengan dosa seperti yang tidak berpuasa akan mendapatkan dosa.


Daftar Pustaka
Moeslichatoen (1999) .Metode Pengajaran di Taman Kanak – Kanak. Jakarta : Depdikbud

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar